Kemiskinan Filsafat - Antitesis Nilai Pakai Dan Nilai Tukar

SEBUAH PENEMUAN ILMIAH

Antitesis Nilai Pakai Dan Nilai Tukar.


“Kemampuan semua produk, baik yang alamiah atau yang industrial, untuk menyumbang pada kehidupan manusia secara khusus diistilahkan nilai pakai; kapasitas mereka untuk disaling-tukarkan satu sama lain, nilai tukar... Bagaimanakah nilai pakai menjadi nilai tukar? ... Genesis ide mengenai nilai (tukar) belum diperhatikan dengan kecermatan secukupnya oleh para ahli ekonomi. Karenanya, menjadi perlu bagi kita untuk membahasnya. Karena sejumlah sangat besar barang yang aku butuhkan hanya terdapat dalam kuantitas-kuantitas sedang-sedang dalam alam, atau bahkan sama sekali tiada, maka aku terpaksa membantu dalam produksi barang-barang yang kubutuhkan. Dan karena aku tidak dapat menangani sendiri begitu banyak barang, aku akan menyarankan kepada orang-orang lain, para kolaboratorku dalam berbagai fungsi, untuk menyerahkan kepadaku sebagian produk-produk mereka sebagai tukar untuk produk-produkku.” (Proudhon, Vol.I, Bab.II.)

M. Proudhon berusaha, pertama-tama, menjelaskan kepada kita sifat rangkap nilai, “perbedaan dalam nilai,” proses dengan mana nilai pakai diubah menjadi nilai tukar. Kita perlu membahas dengan M. Proudhon mengenai tindak transubstansiasi (pergantian/perubahan makna) ini. Berikut ini adalah bagaimana tindak ini dilaksanakan, menurut penulis kita itu.

Sejumlah besar produk tidak dijumpai dalam alam, mereka adalah produk-produk industri. Jika kebutuhan manusia melampaui produksi spontan alam, ia terpaksa mencari jalan-keluar pada produksi industrial. Apakah industri ini dalam pandang-an M. Proudhon? Apakah asalusulnya? Seorang individu tunggal, yang merasakan kebutuhan akan sejumlah besar barang, “tidak dapat menangani sendiri begitu banyak barang.” Sebegitu banyak kebutuhan yang mesti dipenuhi, mensyaratkan sebegitu banyak barang yang mesti diproduksi – tidak ada produk-produk tanpa produksi. Sebegitu banyak barang yang mesti diproduksi sekaligus mensyaratkan lebih dari satu tangan manusia yang membantu memproduksi barang-barang itu. Nah, pada saat anda mengajukan lebih dari satu tangan yang membantu dalam produksi, anda serentak mensyaratkan suatu produksi menyeluruh yang didasarkan pada pembagian kerja. Dengan demikian kebutuhan, sebagaimana M. Proudhon mensyaratkannya, sendiri mensyaratkan seluruh pembagian kerja. Dalam mensyaratkan pembagian kerja, anda mendapat pertukaran, dan, sebagai konsekuensinya, nilai tukar. Orang sebetulnya dapat juga mensyaratkan nilai tukar itu dari awal-mula sekali.

Tetapi, M. Proudhon lebih menyukai jalan berputar itu. Mari kita mengikutinya dalam semua lika-likunya, yang selalu membawanya kembali pada titik berangkat ini.

Agar keluar dari kondisi di mana setiap orang berproduksi secara terpisah (dalam isolasi) dan untuk sampai pada pertukaran, “Aku berpaling pada para kolaboratorku dalam berbagai fungsi,” M. Proudhon berkata. Jadi, aku sendiri, mempunyai kolaborator- kolaborator, semuanya dengan fungsi-fungsi berbeda. Namun, dengan semua itu, aku dan semua orang lainnya, ini masih tetap menurut perkiraan M. Proudhon, tidak melangkah lebih jauh daripada kedudukan seorang-diri dan nyaris tak-bermasyarakat dari keluarga Robinson. Para kolaborator dan pertukaran yang disiratkannya, sudah siap berada.

Kesimpulannya: aku mempunyai kebutuhan-kebutuhan tertentu yang didasarkan pada pembagian kerja dan pada pertukaran. Dalam mengandaikan kebutuhan-kebutuhan ini, M. Proudhon telah mensyaratkan pertukaran, nilai tukar, justru hal yang diniatkannya “untuk diperhatikan genesisnya dengan lebih cermat daripada yang dilakukan oleh para ahli ekonomi lainnya.”

M. Proudhon sebenarnya dapat juga membalikkan urutan persoalannya, tanpa sedikitpun mempengaruhi kecermatan kesimpulankesimpulannya. Untuk menjelaskan nilai tukar, mesti ada pertukaran. Untuk menjelaskan pertukaran, mesti ada pembagian kerja. Untuk menjelaskan pembagian kerja, mesti ada kebutuhan yang menjadikan perlunya pembagian kerja. Untuk menjelaskan kebutuhan-kebutuhan ini, mesti kita mensyaratkannya, yang berarti tidak mengingkarinya – berlawanan dengan aksioma pertama dalam prolog M. Proudhon: “Mensyaratkan (adanya) Tuhan adalah mengingkariNya.” (Prologue, hal.1.) Bagaimanakah M. Proudhon, yang menganggap pembagian kerja sebagai yang sudah diketahui, berusaha menjelaskan nilai tukar, yang baginya selalu sesuatu yang tidak-diketahui itu?

“Seseorang” mulai “menyarankan kepada orang-orang, para kolaboratornya dalam berbagai fungsi,” agar mereka menyelenggarakan pertukaran, dan membuat suatu perbedaan (penegasan) antara nilai biasa dan nilai tukar. Dalam menerima perbedaan/penegasan yang diusulkan itu, para kolaborator itu tidak “membebani” M. Proudhon lebih daripada perekaman kenyataan, menandai, “memperhatikan” dalam karyanya mengenai ekonomi-politik itu “genesis (asal-muasal) ide mengenai nilai.” Tetapi, ia masih mesti menjelaskan kepada kita “genesis” dari usulan ini, pada akhirnya mesti memberitahukan kepada kita bagaimana individu tunggal ini, Robinson ini, tiba-tiba mendapat ide untuk mengajukan “pada para kolaboratornya” suatu usul dari jenis yang diketahui dan bagaimana para kolaborator itu menerimanya tanpa sedikitpun protes.

M. Proudhon tidak memasuki hingga rincian-rincian genealogikal ini. Ia cuma membubuhkan sejenis cap historis pada kenyataan pertukaran, dengan menyajikannya dalam bentuk suatu usulan, yang diajukan oleh suatu pihak ketiga, agar pertukaran diselenggarakan. Itu sebuah contoh dari “ metode historis dan deskriptif ” M. Proudhon, yang bersikap teramat meremehkan “metode-metode historis dan deskriptif” para Adam Smith dan para Ricardo.

Pertukaran mempunyai sejarahnya sendiri. Ia telah menjalani berbagai tahapan.

Ada masanya, misalnya selama Abad-abad Pertengahan, ketika hanya kelebihan produksi yang berlimpah-limpah atas konsumsi, yang dipertukarkan.

Juga ada masanya, ketika tidak hanya produk-produk yang berkelebihan, melainkan semua produk, semua keberadaan industrial, telah beralih ke dalam perdagangan, ketika keseluruhan produksi bergantung pada pertukaran. Bagaimana mesti kita jelaskan tahap kedua dari pertukaran ini – nilai yang dapat dipasarkan pada pangkat keduanya?

M. Proudhon akan mempunyai jawaban yang siap-pakai: Anggaplah bahwa seseorang telah “ mengusulkan pada orang-orang lain, para kolaboratornya dalam berbagai fungsi,” untuk mengangkat nilai yang dapat dipasarkan pada pangkat keduanya.

Akhirnya, tibalah masanya ketika segala sesuatu yang dianggap orang sebagai (sesuatu) yang tidak terpisahkan/terasingkan (dari dirinya) menjadi suatu objek pertukaran, objek lalu-lintas dan dapat dipisahkan/ diasingkan. Inilah waktunya ketika justru segala sesuatu yang hingga saat itu telah dikomunikasikan, tetapi tidak pernah ditukarkan; yang diberikan, tetapi tidak pernah dijual; yang diperoleh, tetapi tidak pernah dibeli – kebajikan, cinta, keyakinan, pengetahuan, hati-nurani, dsb. – ketika segala sesuatu, singkatnya, beralih menjadi perdagangan. Itulah masanya korupsi umum, sogok-sogokan universal, atau, dikatakan dalam pengertian-pengertian ekonomi-politik, masa ketika segala sesuatu, moral atau fisikal, setelah menjadi suatu nilai yang dapat dipasarkan, dibawa ke pasar untuk dinilai pada nilainya yang paling tepat.

Sekali lagi, bagaimanakah dapat kita jelaskan tahap baru dan terakhir dari pertukaran – nilai yang dapat dipasarkan pada pangkat ketiganya?

M. Proudhon akan mempunyai jawaban yang siap-pakai: Anggaplah bahwa seseorang telah “mengusulkan pada orang-orang lain, para kolaboratornya dalam berbagai fungsi,” untuk menetapkan suatu nilai yang dapat dipasarkan dari kebajikan, cinta, dsb., untuk mengangkat nilai tukar pada pangkat ketiganya dan yang terakhir.

Kita melihat bahwa “metode historis dan deskriptif” M. Proudhon dapat diberlakukan pada segala sesuatu, yang menjawab segala sesuatu, yang menjelaskan segala sesuatu. Jika masalahnya terutama menjelaskan secara historis “ genesis suatu ide ekonomi,” maka ia mendalilkan seseorang yang mengusulkan pada orang-orang lain, “para kolaboratornya dalam berbagai fungsi,” agar mereka melaksanakan tindak genesis ini dan itulah akhir segala-galanya.

Seterusnya akan kita terima “ genesis” nilai tukar itu sebagai suatu tindak yang rampung; sekarang tinggal menguraikan hubungan antara nilai tukar dan nilai pakai. Mari kita dengar apa yang dikatakan M. Proudhon.

“Para ahli ekonomi telah dengan baik sekali menunjukkan watak rangkap dari nilai, tetapi yang tidak mereka tunjukkan dengan kecermatan serupa yalah sifatnya yang bertentang-tentangan;di sinilah kritik kita dimulai ... Adalah soal kecil untuk menarik perhatian pada perbedaan yang mengejutkan antara nilai pakai dan nilai tukar ini, di mana para ahli ekonomi lazimnya hanya melihat sesuatu yang sederhana sekali; kita mesti menunjukkan bahwa yang dianggap kesederhanaan ini menyembunyikan suatu misteri yang gelap sekali, yang adalah menjadi kewajiban kita untuk menyelkidikinya ... Dalam pengertian teknikal, nilai pakai dan nilai tukar adalah dalam rasio terbalik satu sama lain.”

Jika kita sepenuhnya menangkap pikiran M. Proudhon, maka empat soal berikut inilah yang hendak ditegakkannya:

1. Nilai pakai dan nilai tukar merupakan suatu kontras yang mengejutkan, mereka saling bertentang-tentangan satu sama lain.

2. Nilai pakai dan nilai tukar berada dalam rasio terbalik, dalam kontradiksi, satu sama lain.

3. Para ahli ekonomi tidak menanggapi dan juga tidak mengakui baik pertentangan atau kontradiksi itu.

4. Kritisisme M. Proudhon dimulai pada akhirnya.

Kita juga akan mulai dari akhirnya, dan, untuk membebas-kan/membersihkan para ahli ekonomi dari tuduhan-tuduhan M. Proudhon, akan kita biarkan dua ahli ekonomi yang cukup terkenal berbicara sendiri.

Sismondi: Adalah pada pertentangan antara nilai pakai dan nilai tukar, perdagangan telah mereduksi segala sesuatu, dsb. ( Etudes, Vol.II , hal.162 Edisi Brussel.)

Lauderdale: “Proporsional dengan peningkatan kekayaan individuindividu dengan suatu pertambahan nilai sesuatu barang-dagangan, kekayaan masyarakat pada umumnmya berkurang; dan proporsional dengan berkurangnya massa kekayaan-kekayaan individual, dengan mengecilnya nilai sesuatu barang-dagangan, kekayaannya pada umumnya meningkat, “Recherches sur la nature et l’origine de la richesse publique; diterjemahkan oleh Langentie de Lavaïsse. Paris, 1808 [hal.33].”[7]

Pada “pertentangan” antara nilai pakai dan nilai tukar itulah Sismondi mendasarkan doktrin utamanya, uyang menyatakan bahwa pengurangan/mengecilnya pendapatan adalah proporsional dengan peningkatan dalam produksi.

Lauderdale mendasarkan sistemnya pada rasio terbalik dari kedua jenis nilai itu, dan doktrinnya memang begitu populer pada zaman Ricardo, sehingga yang tersebut belakangan ini dapat berbicara tentang hal itu sebagai sesuatu yang diketahui secara umum. “Adalah dengan mengacaukan ide-ide mengenai nilai dan kekayaan, atau kemewahan timbulnya anggapan, bahwa dengan mengurangi kuantitas barang-barang dagangan, yaitu yang berarti, pengurangan kebutuhan-kebutuhan, kemudahan-kemudahan, dan kesenangan-kesenang-an kehidupan manusia, kekayaan-kekayaan itu dapat ditingkatkan.” “Ricardo, Principes de l’économie politique, terjemahan Constancio, anotasi oleh J.B. Say. Paris 1835; Vol.II, bab Sur la valeur et les richesses.[8]

Baru saja telah kita melihat bahwa para ahli ekonomi sebelum M. Proudhon telah “menarik perhatian” pada misteri mendalam mengenai pertentangan dan kontradiksi. Mari sekarang kita melihat bagaimana M. Proudhon pada gilirannya menjelaskan misteri ini setelah para ahli ekonomi itu.

Nilai tukar sesuatu produk jatuh dengan meningkatnya penawaran, dengan permintaannya tetap sama; dengan kata-kata lain, semakin berlimpah sesuatu produk itu secara “relatif dengan permintaan,” semakin rendah nilai tukarnya, atau harganya. Vice versa: Semakin lemah penawaran secara relatif dengan permintaan, semakin tinggi naiknya nilai tukar dari harga produk yang dipasok: dalam kata-kata lain, semakin besar kelangkaan produk-produk yang dipasok, secara relatif dengan permintaan, semakin tinggi pula harga-harganya. Nilai tukar suatu produk bergantung pada kelimpahannya atau kelangkaannya, tetapi selalu dalam hubungan dengan permintaan. Ambillah sebuah produk yang lebih daripada langka, yang unik dari jenisnya, terserah: produk yang unik ini akan lebih daripada berlimpah, ia akan berlebih-lebihan, apabila tiada permintaan akan barang itu. Di lain pihak, ambillah suatu produk yang diperbanyak dalam jutaan, ia akan selalu langka jika ia tidak memenuhi permintaan, yaitu, jika terdapat permintaan yang terlampau besar akan barang itu.

Inilah yang nyaris mesti kita sebut truisme-truisme (kebenarankebenaran yang tak dapat disangkal lagi), namun kita terpaksa mengulanginya di sini agar menjadikan misteri-misteri M. Proudhon itu masuk-akal/dapat dimengerti.

Sehingga, menindak-lanjuti azas itu hingga konsekuensi-konsekuensi terakhirnya, orang akan sampai pada kesimpulan, yaitu yang paling logikal di dunia, bahwa barang-barang yang kegunaannya kita tidak bisa tanpanya dan yang kuantitasnya tidak terbatas, seharusnya dapat diperoleh secara cuma-cuma, dan yang kegunaannya nol dan yang kelangkaannya ekstrim, mestinya bernilai melampaui segala perhitungan. Untuk menyumbat kesulitan itu, keekstriman-keekstriman ini adalah mutahil dalam praktek: di satu pihak, tiada produk manusia yang dapat tanpa-batas dalam banyaknya; di lain pihak, bahkan barang-barang yang paling langkah mestilah berguna hingga suatu derajat tertentu, kalau tidak maka barang-barang itu akan tiada-bernilai sama sekali. Nilai pakai dan nilai tukar dengan demikian secara tak-terpisahkan terikat satu sama lain, sekalipun berdasarkan sifatnya mereka terus- menerus cenderung saling-mengingkari. (Vol.I, hal. 39.)

Apakah yang menyumbat kesulitan M. Proudhon? Sederhana, bahwa ia telah lupa mengenai “permintaan,” dan bahwa suatu barang dapat langka atau berlimpah hanya sejauh ada permintaan akannya. Seketika ia meninggalkan masalah permintaan itu, ia mengidentifikasi nilai tukar dengan “kelangkaan” dan nilai pakai dengan “kelimpahan.” Sebenarnya, dengan mengatakan bahwa barang-barang “yang kegunaannya nol dan kelangkaan ekstrim adalah bernilai melampaui segala perhitungan,” ia cuma menyatakan bahwa nilai tukar hanya sekedar kelangkaan. “Kelangkaan ekstrim dan kegunaan nil” berarti kelangkaan semurninya. “Bernilai melampaui segala perhitungan” adalah maksimumnya nilai tukar, ia adalah nilai tukar semurninya. Ia menyamakan kedua pengertian ini. Maka itu nilai tukar dan kelangkaan adalah pengertian-pengertian/istilah-istilah kesamaan/kesetaraan. Dalam sampai pada yang dianggapnya “konsekuensi-konsekuensi ekstrim” ini, M. Proudhon sebenarnya telah membawa pada keekstriman, bukan barang-barang itu, tetapi istilah-istilah yang mengungkapkan mereka, dan, dengan berbuat demikian, ia menunjukkan kecakapan dalam retorika, lebih daripada dalam logika. Ia cuma menemukan kembali hipotesis-hipotesis yang pertama dalam seluruh ketelanjang-an mereka, ketika ia berpikir bahwa ia telah menemukan konsekuensi-konsekuensi baru. Berkat prosedur yang sama ia berhasil mengidentifikasi nilai pakai dengan kelimpahan semurninya.

Setelah menyetarakan/mempersamakan nilai tukar dan kelangkaan, nilai pakai dan kelimpahan, M. Proudhon heran sekali tidak menemukan nilai pakai dalam kelangkaan dan nilai tukar, juga tidak nilai tukar dalam kelimpahan dan nilai pakai; dan mengetahui bahwa keekstriman-keekstriman ini tidaklah mungkin dalam praktek, ia tidak dapat berbuat lain kecuali percaya pada misteri. Nilai yang tidak dapat diperhitungkan ada baginya karena tidak beradanya para pembeli, dan ia tidak akan pernah mendapatkan pembeli selama ia tidak memasukkan permintaan.

Di pihak lain, kelimpahan M. Proudhon sepertinya sesuatu yang spontan. Ia melupakan sama sekali bahwa ada orang-orang yang memproduksinya, dan bahwa menjadi kepentingan mereka untuk tidak meremehkan/memperhitungkan permintaan. Jika tidak begitu, bagaimana M. Proudhon dapat berkata bahwa barang-barang yang sangat berguna mesti mempunyai harga yang sangat rendah, bahkan tidak berongkos apapun? Sebaliknya, ia mestinya menyimpulkan bahwa kelimpahan, produksi dari barang-barang yang sangat berguna, mesti dibatasi jika harganya, yaitu nilai tukarnya, mau dinaikkan.

Para penanam-anggur tua dari Perancis, dalam berpetisi akan sebuah undang-undang yang melarang pembukaan kebon-kebon anggur baru; orang-orang belanda dengan membakar rempah-rempah Asiatik, dalam memusnahkan pohon-pohon cengkeh di Maluku, cuma berusaha mengurangi kelimpahan agar menaikkan nilai tukar. Selama seluruh Abad-abad Pertengahan azas yang sama ini diberlakukan, dengan undang-undang membatasi jumlah juru keliling yang dapat dipekerjakan seorang majikan tunggal dan jumlah peralatan yang dapat dipakainya. (Lihat Anderson, History of Commerce.)[9]

Setelah menyatakan kelimpahan sebagai nilai pakai dan kelangkaan sebagai nilai tukar – memang tiada yang lebih gampang daripada membuktikan bahwa kelimpahan dan kelangkaan berada dalam rasio terbalik – M. Proudhon mengidentifikasi nilai pakai dengan “penawaran” dan nilai tukar dengan “permintaan.” Agar menjadikan antitesis itu lebih tegas, ia menggantikan sebuah istilah baru, dengan menetapkan “nilai perkiraan/taksiran” sebagai gantinya “nilai tukar.” Pertempuran telah bergeser medan, dan di satu pihak kita dapatkan kegunaan(nilai pakai, penawaran), dan di pihak lain kita dapatkan ”taksiran” (nilai tukar, permintaan).

Siapakah yang mesti/akan mendamaikan kedua kekuatan bertentang-tentangan ini? Apakah yang harus dilakukan agar mereka menjadi selaras satu sama lain? Mungkinkah menemukan suatu titik perbandingan saja pada keduanya itu?

Sudah tentu, teriak M. Proudhon, ada satu – kehendak bebas. Harga yang dihasilkan dari pertempuran antara penawaran dan permintaan ini, antara kegunaan dan taksiran tidak akan menjadi ungkapan keadilan abadi.

M. Proudhon terus mengembangkan antitesis ini. Dalam kapasitasku sebagai seorang pembeli bebas, aku menjadi hakim atas kebutuhan-kebutuhanku, hakim atas penghasratan sesuatu objek, hakim atas harga yang aku bersedia bayar untuknya. Di lain pihak, dalam kapasitasmu sebagai seorang produser bebas, anda menjadi tuan atas cara-cara pelaksanaan, dan oleh karenanya anda memiliki kekuasaan untuk menurunkan pengeluaran-

Dan karena permintaan, atau nilai tukar, adalah identis dengan taksiran, M. Proudhon mesti berkata:

“Telah terbukti bahwa adalah kehendak bebas orang yang melahirkan pertentangan antara nilai pakai dan nilai tukar. Bagaimanakah pertentangan ini dapat disingkirkan, selama beradanya kemauan bebas? Dan bagaimana yang tersebut beklakangan itu dapat dikorbankan tanpa mengorbankan umat-manusia?” (Vol.I, hal. 41.)

Jadi, tidak dimungkinkan adanya jalan keluar. Terdapat suatu pergulatan antara dua –boleh dikata– kekuatan yang tidak dapat (saling) diperbandingkan, antara kegunaan dan taksiran, antara pembeli bebas dan produser bebas.

Mari kita bahas masalah ini secara lebih cermat.

Penawaran telah semata-mata mewakili kegunaan, permintaan tidak semata-mata mewakili taksiran/perkiraan. Tidakkah peminta itu juga menyuplai suatu produk tertentu atau yang tertentu yang mewakili semua produk, yaitu uang; dan sebagai penyuplai, tidakkah ia mewakili, menurut M. Proudhon, kegunaan atau nilai pakai?

Lagi, tidakkah pemasok juga meminta (menuntut) suatu produk tertentu atau yang tertentu yang mewakili semua produk, yaitu uang? Dan tidakkah ia dengan demikian menjadi perwakilan dari taksiran, dari taksiran nilai atau dari nilai tukar?

Permintaan adalah sekaligus suatu penawaran, penawaran adalah sekaligus suatu permintaan. Demikian antitesis M. Proudhon, dengan semata-mata mengidentifikasi penawaran dan permintaan, yang satu dengan kegunaan, yang lain dengan taksiran/perkiraan, hanya didasarkan pada suatu abstraksi sia-sia.

Yang disebut M. Proudhon sebagai nilai pakai disebut nilai taksiran oleh para ahli ekonomi lain, dan itu dengan sepenuh hak mereka. Kita hanya akan mengutib Storch ( Cours d’économie politique, Paris 1823, hal. 48 dan 49).[1 0]

Menurut Storch, “kebutuhan-kebutuhan” adalah barang-barang yang padanya kita merasakan kebutuhan itu; “nilai-nilai” adalah barang-barang yang kepadanya kita mengatributikan nilai. Kebanyakan barang mempunyai nilai hanya karena mereka memuaskan kebutuhan-kebutuhan yang ditimb ulkan oleh perkiraan. Perkiraan mengenai kebutuhan-kebutuhan kita dapat berubah; maka itu kegunaan barangbarang, yang hanya mengungkapkan hubungan barang-barang ini dengan kebutuhan-kebutuhan kita, juga dapat berubah. Kebutuhan-kebutuhan alami itu sendiri juga terus berubah. Memang, apakah yang dapat lebih berubah-ubah (bervariasi) daripada objek-objek yang merupakan makanan pokok berbagai-bagai rakyat!

Konflik itu tidak terjadi antara kegunaan dan perkiraan; ia berlangsung antara nilai yang dapat dipasarkan yang dituntut oleh pemasok dan nilai yang dapat dipasarkan yang dipasok oleh peminta. Nilai tukar produk itu setiap saat merupakan hasil (resultant) penilaian-penilaian (apresiasi) yang bertentang-tentangan ini.

Dalam analisis akhirnya, penawaran dan permintaan mengumpul-kan/ mempersatukan produksi dan konsumsi, tetapi produk dan konsumsi berdasarkan pertukaran-pertukaran individual.

Produk yang dipasok itu bukanklah kegunaan pada dirinya sendiri (kegunaan itu sendiri). Adalah konsumer yang menentukan kegunaannya. Dan bahkan apabila kualitasnya sebagai sesuatu yang berguna itu diakui, ia tidak semata-mata mewakili kegunaan. Dalam proses produksi, ia telah dipertukarkan untuk semua ongkos produksi, seperti bahan mentah, upah kaum buruh, dsb., yang kesemuanuya merupakan nilai-nilai yang dapat dipasarkan. Produk itu, oleh karenanya, mewakili –di mata produser itu– suatu jumlah keseluruhan dari nilai-nilai yang dapat dipasarkan.

Yang dipasoknya itu tidak hanya sebuah objek yang berguna, tetapi juga dan terutama suatu nilai yang dapat dipasarkan.

Sedangkan yang mengenai permintaan, ia akan efektif jika disertai persyaratan bahwa ia memiliki cara/alat untuk dilakukannya pertukaran. Cara-cara/alat-alat itu sendiri adalah produk-produk, nilai yang dapat dipasarkan.

Jadi, dalam penawaran dan permintaan kita mendapatkan, di satu pihak, sebuah produk yang telah berongkoskan nilai-nilai yang dapat dipasarkan, dan kebutuhan untuk menjual; di lain pihak, cara-cara/alatalat yang berongkoskan nilai-nilai yang dapat dipasarkan, dan hasrat untuk membeli.

M. Proudhon mempertentangkan “pembeli bebas” dengan “produser bebas.” Kepada yang satu dan kepada yang lainnya ia mengatributkan/mensifatkan kualitas-kualitas yang semurninya metafisikal. Inilah yang membuatnya berkata: “Telah terbukti bahwa adalah kemauan bebas orang yang melahirkan pertentangan antara nilai pakai dan nilai tukar.” [I 41]

Produser itu, pada saat ia memproduksi dalam suatu masyarakat yang berdasarkan pembagian kerja dan pada pertukaran (dan itulah hipotesis M. Proudhon), dipaksa untuk menjual M. Proudhon menjadikan produser itu tuan atas alat-alat produksi; tetapi ia akan sependapat dengan kita bahwa alat-alat produksinya itu tidak bergantung pada “kehendak bebas.” Lagi pula, banyak dari alat-alat produksi ini adalah produk-produk yang diperolehnya dari luar, dan dalam produksi modern ia bahkan tidak bebas untuk memproduksi jumlah yang dikehendakinya. Derajat perkembang-an sebenarnya/aktual dari kekuatan-kekuatan produktif memaksanya untuk memproduksi pada sesuatu skala tertentu.

Konsumer tidaklah lebih bebas dari produser. Penilaian-penilaiannya bergantung pada alat-alat dan kebutuhan-kebutuhannya. Dan keduaduanya ini ditentukan oleh posisi sosialnya, yang sendiri bergantung pada seluruh organisasi sosial. Memang benar, si pekerja yang membeli kentang dan wanita peliharaan yang membeli kain renda, kedua-duanya mengikuti penilaian-penilaian masing-masing. Tetapi perbedaan dalam penilaian-penilaian mereka dijelaskan dengan perbedaan dalam kedudukan yang punyai di dunia, dan yang itu sendiri adalah produk-produk dari organisasi sosial.

Adakah seluruh sistem kebutuhan itu berlandaskan perkiraan atau pada keseluruhan organisasi produksi? Yang paling sering, kebutuhan-kebutuhan timbul langsung dari produksi atau dari suatu keadaan yang berdasarkan produksi. Perdagangan dunia hampir seluruhnya berputar sekitar kebutuhan-kebutuhan, bukan dari konsumsi individual, tetapi dari produksi. Dengan demikian, untuk memilih sebuah contoh lain, tidakkah kebutuhan akan pengacara-pengacara mengandaikan suatu hukum sipil tertentu yang cuma merupakan ekspresi dari suatu perkembangan kepemilikan tertentu, yaitu, dari produksi?

Bagi M. Proudhon tidak cukup dengan melenyapkan unsur-unsur yang baru saja disebut itu dari hubungan penawaran dan permintaan. Ia membawa abstraksi hingga batas-batas paling jauh ketika ia melebur semua produser menjadi seorang produser tunggal, semua konsumer menjadi “seorang konsumer tunggal,” merekayasa suatu pergulatan antara kedua tokoh khayalan ini. Tetapi dalam dunia nyata, peristiwa-peristiwa terjadi secara lain. Persaingan di antara para pemasok (penyedia/penjual) dan persaingan di antara para peminta (pembeli) merupakan suatu bagian keharusan dari pergulatan antara para pembeli dan para penjual, yang hasil daripadanya adalah nilai yang dapat dipasarkan.

Setelah menyingkirkan persaingan dan ongkos produksi, M. Proudhon dapat dengan santai mereduksi perumusan mengenai penawaran dan permintaan menjadi suatu absurditas.

Penawaran dan permintaan, ia mengatakan, cuma dua bentuk seremonial yang gunanya untuk menghadap-hadapkan nilai pakai dan nilai tukar satu sama lain, dan untuk membawa pada perujukan mereka. Mereka adalah dua kutub elektrik yang, apabila disambungkan, mesti memproduksi gejala afinitas yang disebut pertukaran. (Vol.I, hal.49 dan50.)

Orang bisa juga mengatakan bahwa pertukaran hanyalah sebuah bentuk seremonial untuk memperkenalkan konsumer pada objek konsumsi, Orang bisa juga mengatakan bahwa semua hubungan ekonomikal adalah “bentuk-bentuk seremonial” yang melayani konsumsi langsung sebagai perantara-perantara. Penawaran dan permintaan bukanlah kurang ataupun lebih merupakan hubungan-hubungan suatu produksi tertentu, daripada pertukaran-pertukaran individual.

Lalu, terdiri atas apakah seluruh dialektika M. Proudhon itu? Dalam menggantikan bagi nilai pakai dan nilai tukar, bagi penawaran dan permintaan, bagi pengertian-pengertian abstrak dan bertentang-tentangan seperti kelangkaan dan kelimpahan, kegunaan dan taksiran/perkiraan, seorang produser dan seorang konsumer, kedua- dua mereka itu “kesatria-kesatria kehendak bebas.”

Dan ke manakah arah tujuannya?

Mengatur bagi dirinya sendiri suatu cara untuk kelak mengintroduksikan salah-satu dari iunsur-unsur yang telah disediakannya, “ongkos produksi,” sebagai “sintesis” nilai pakai dan nilai tukar. Dan demikian itulah dalam pandangannya, ongkos produksi merupakan “nilai sintetik” atau nilai bentukan.”

0 comments:

Poskan Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cheap international calls